Jumat, 12 Agustus 2011

oret - oret gajelas


hee.. postingan kedua aku.. setelah lama ga posting apa2 :D  ini sbenrnya, belum hbis.. cma muncul tba2 aja.. jd pngn aku posting..


Ini adalah hidupku, semua hal yang aku lakukan adalah sesuai kehendak dan keinginanku, tapi aku tidak pernah menyesal telah melakukan sesuatu hal yang bodoh, tolol, atau mungkin membanggakan. Karena semua itu adalah pengalaman beharga yang mungkin memang harus aku punya, selama aku masih menjalani kehidupanku.
 Aku tak pernah setuju dengan pilihan orang tuaku yang mendaftarkanku ke sekolah berasrama. Tapi aku telah memikirkan segalanya dengan penuh pertimbangan. Aku tak ingin mengecewakan orang tuaku, atas apa yang telah aku lakukan tiga hari yang lalu yang membuat orang tuaku kehilangan muka. Aku akan menebus kesalahanku itu, dengan masuk sekolah berasrama yang mereka pilihkan untukku. Aku tidak mengeluh saat keputusan itu diberikan padaku tanpa boleh kutolak. Karena aku sadar betul, bahwa apa yang telah aku lakukan tempo hari memang tak bias ditolerir lagi oleh orang tuaku. Sudah terlalu banyak masalah yang aku timbulkan di rumah. Aku juga ingin untuk hidup lebih mandiri, karena aku tak ingin mengecewakan orang tuaku untuk yang kedua kalinya. “Tara, kami ingin kamu, hidup mandiri, dan menjadi dewasa…” kata-kata papa mengalir begitu saja, dalam lamunanku. “Jadi, papa mau kamu masuk sekolah asrama. Bagaimana ?” pertanyaan itu bagai peluru yang menghantam keras dadaku, ingin rasanya aku menolak. Tapi, itu semua percuma, karena jika papa sudah memutuskan seperti itu, tak ada gunanya aku menolak. Kini aku tidak sama sekali mengenal jalanan yang sedang aku lewati, papa dan mama mengantarku ke sekolahku yang baru . Bayangan aku akan tinggal di sekolah yang baru, tidur, makan, mengahabiskan semua waktuku di sekolah baru yang belum aku kenal itu menari dalam benakku. Lamunanku berlanjut dan menari bagaikan kenyataan, sampai aku tak menyadari bahwa aku telah sampai di sekolah baruku itu. Tak seburuk yang aku bayangkan. “Wow..” hanya kata itu yang berhasil terucap, karena aku tak tahu komentar apa yang bisa aku keluarkan. Ini mungkin hal yang tak mungkin aku temukan dimana pun di dunia ini. Masih adakah tempat di dunia ini yang seindah ini ? Tiba-tiba semua bayangan mimpi buruk yang ada di benakku berevolusi menjadi mimpi yang indah. Aku berdiri mematung selamasatu menit sebelum aku dapat menyesuaikan penglihatanku dengan sekolah yang bagaikan istana dewa ini. Benarkah aku tidak sedang bermimpi? Aku mengulang kalimat itu berkali-kali dalam hati. Aku mengikuti orang tuaku memasuki sekolah itu. Rumput hijau, pohon-pohon besar yang tinggi yang mungkin sudah berumur lebih dari seratus tahun, bangunan-bangunan tinggi yang mungkin akan menjadi calon ruang kelas dan asramaku, halaman sekolah yang tiga kali luas lapangan sepak bola lengkap dengan kolam air mancur di bagian tengahnya, serta bunga-bunga tulip yang menghiasi pinggiran kolam dan halaman sekolah itu. Ditambah lagi dengan hutan-hutan yang lebat di bagian belakang asrama itu dan pantai yang membentang sepanjang jalan yang aku lewati tadi sampai di sekolah berasrama ini. Aku memandang semua itu dengan takjub dan merasa beruntung karena tidak benar-benar bisa menolak tawaran papa. “Pa, ini sekolahku ?” tanyaku pada papa yang akan masuk ke ruangan yang tidak lain, ruang kepala sekolah. “iya, Tara. Cuma sampai lulus SMA.” Jawab papa. Cuma sampai lulus SMA ? oh Tuhan, kalau sekolahnya, bagai surga begini, selamanya pun aku mau. “kamu duduk di sini dulu ya, kami mau lapor ke kepala sekolah dulu.” “ya, pa” jawabku cepat. aku hanya bisa duduk di sini, tepat di depan ruang kepala sekolah yang kelihatannya sangat keren ini, memandangi apa saja yang terlintas di depan mataku. Aku hanya bisa mengingat nama sekolah ini, “Pekerti Luhur” saja sudah bisa membuat diriku merasa bagaikan melayang. Aku tak menyadari, hanya karena tiga hari yang lalu aku membuat masalah, telah mengantarku menuju surga dunia yang tak terkira ini. “Baik pak, kami mengerti. Apakah Tara bisa mulai masuk sekolah ?” aku mendengar papa bicara dengan kepala sekolah di depan pintu. Sepertinya sebagai penutup pembicaraan mereka. Langkah papa begitu dekat denganku, bisa kurasakan papa kini hanya beberapa meter dariku. “Tara, kamu bisa mulai sekolah besok, sekarang kamu ikut dengan ibu kepala asrama putri, ia akan mengantarmu ke asramamu.” Papa menjelaskan. “papa nggak ikut?” “nggak, papa cuma mengantar sampai di sini. Selamat malam sayang.” “Ok, sampai ketemu liburan nanti. Dah , pa-ma.” Kataku sambil melambaikan tangan kepada kedua orang tuaku. Dan baru menyadari, kalau hari sudah malam saat aku tiba di Pekerti Luhur. Sungguh bodohnya aku sempat menolak sekolah di sini, hanya untuk mempertahankan sekolahku yang lama. Kini aku berjalan bersama ibu kepala asramaku, menuju asrama yang akan menjadi tempatku tinggal di sekolah ini. “Tara, nama Ibu Rina. Kamu bisa panggil ibu, Ibu Rina. Kalau kamu ada yang perlu ditanyakan mengenai apapun di sini, kamu bisa tanyakan pada ibu. Dan ini, kamar kamu, kamu di sini sekamar dengan Tanya, Kanya, Nana, dan Shinta. Yang rukun ya kalian semua” Jelas Bu Rina, sembari mengenalkanku pada semua teman-teman baruku. Aku begantian menatap mereka satu per satu dan tersenyum ramah sebagai tanda perkenalan pada mereka. Setelah itu, mataku tertuju pada ruangan itu sendiri, yang cukup luas dan mungkin kalau aku perkirakan, lebih luas dari kamarku, digabungkan dengan kamar – kamar lain yang ada di rumah. “Ya Bu Rina, saya mengerti.” “Halo..” sapaku pada mereka. “Halo juga,” balas mereka padaku. Tanya dan Kanya sepertinya, saudara kembar. Mereka sangat cantik. Sama-sama cantik, tinnggi, putih dan memiliki rambut ikal yang terjuntai ke bawah dengan. Sedang satu gadis yang duduk di sebelah Tanya, bisa kulihat dia gadis yang periang dari sorot matanya yang selalu memancarkan kegembiraan, kata Bu Rina namanya Nana. Dan satu lagi, Shinta. Dia berdiri di belakang ketiganya, dari yang aku lihat, dia gadis yang pemalu. Hanya sedikit bicara. Tapi sangat ramah kelihatannya. Dia memiliki mata yang indah yang sepadan dengan wajahnya yang cantik. Rambutnya juga panjang dengan warna coklat keemasan. Lain halnya denganku, mereka semua tampak sempurna dengan penampilan mereka. Aku tak bisa dibandingkan dengan mereka. “Namaku Tara, senang bisa sekamar dengan kalian.” “Kami semua juga senang, ibu asrama sudah bilang kalau kita akan dapat teman baru.” Kata Tanya padaku dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya yang cantik. “jadi, bagaimana pendapatmu tentang sekolah ini?” Tanya melanjutkan. “mmm..” aku terdiam sejenak “mengagumkan !” “Aku pikir juga begitu,” kata Kanya. “kamu akan sangat menyukai sekolah ini, percayalah padaku” “benarkah? Sekarang saja, aku sudah merasa senang. Karena mempunyai teman seperti kalian” jawabku tulus. “apa yang membuatmu sampai bisa dipindahkan ke sekolah ini?” tanya Shinta sopan padaku. “oh, itu..” “itu karena orang tuaku ingin aku lebih mandiri dan menekan sifat-sifat burukku yang telah menyusahkan mereka sampai tiga hari yang lalu” jawabku jujur sambil merenung. “Sudahlah, kamu akan jadi lebih baik setelah ini. Semua anak-anak di sini dulu juga punya masalah, dan mereka akhirnya bisa meyelesaikan dan menekan sikap buruk mereka.” Kanya berkata dengan lembut. “Apakah kalian juga?” tanyaku ingin tau. “tentu, kami punya masalah masing-masing. Tapi, sekolah ini benar-benar merubah segalanya. Nantinya kamu juga akan mengerti. Sekarang, kami ingin tahu lebih banyak tentangmu Tara.” Pinta kanya tersenyum padaku. “apa yang ingin kamu ketahui?” “umurmu?” Tanya memulai “Umurku empat belas tahun.” “Keluargamu?” Nana melanjutkan “aku anak tunggal, sudah ?” “baik, sepertinya sudah, lalu apakah kamu ingin tahu tentang kami?” “ya, tentu saja. Aku ingin tahu tentang kalian. Apakah kalian semua bersahabat ?” “ya, kami bersahabat baik.” Jawab Tanya. “Dan.. sudah berapa lama kalian bersahabat?” “kami bersahabat sejak kami ditempatkan sekamar di kamar ini.” Itu Nana. “lalu apa kalian semua ditempatkan secara bersamaan? Atau ada di antara kalian yang seperti aku” “Aku, Shinta dan Nana ditempatkan bersama-sama, tapi Kanya dan Tanya sama sepertimu, dia pindah tiga tahun yang lalu.”              

Selasa, 23 November 2010